Jumat, 22 September 2017

September Sadness

Tulisan ini kubuat saat aku tak mendengarkan apapun, hanya mendengar diam.

Mungkin dari sepanjang tahun, ini adalah september tersakit yang pernah aku lewati.
Bagaimana tidak, 
Aku tengah jatuh cinta dengan seorang pria, baru beberapa bulan lalu aku merasakan betapa bahagianya bersama dengan dia. Tapi dibulan ini aku mengetahui bahwa rasa cinta yang dia berikan hanyalah kepalsuan.
Hatinya sudah milik orang dari awal, akan tetapi dia mengatakan padaku kalau dia dengan orang itu sudah selesai, dengan bodoh dan naifnya aku percaya, kuberikan hatiku padanya dan berharap dia akan menjaga dan melindunginya. Berharap kalau dia orang yang akan menjadi tempat dimana hatiku akan bersemayam dengan tenang.
Dipertengahan september ini aku baru sadar, hati yang kuberikan kepadanya ternyata hanya sebagai simbol kebanggan baginya, bangga karena bisa memiliki banyak hati wanita (tak cuma aku) yang dia bisa miliki. Semacam piagam yang menerangkan kalau semakin banyak hati yang dia miliki, semakin keren dan tinggi nilai seseorang itu dimata sosial.
Setelah dia sudah memiliki dan menunjukkan penghargaan itu, dia kembali dengan piala utamanya yang paling mahal dan berharga. Dia membuang hatiku seolah itu hanyalah sebuah mangga yang sudah busuk dan tak layak lagi untuk dia simpan.

Minggu kedua tgl 14 september pagi, sekitar jam 5 subuh, baru saja hatiku patah karena menerima cinta palsu dari orang yang aku cintai dengan tulus, pagi itu tiba-tiba aku mendengar kabar bahwa ayahku terkena stroke yang menyebabkan seluruh tubuh bagian kanannya tak dapat bergerak, dia pun tak dapat berbicara karena wajah sebelah kanannya pun ikutan lumpuh. Berita yang sangat memilukan hatiku.
Aku pulang ke medan untuk melihat keadaan pria nomor satu di duniaku itu. Namun untuk yang pertama kalinya dari selama 25 tahun aku hidup, aku pulang tetapi tak disambut oleh Bapak ku tercinta itu.
Dia cuma terguling lemah, dengan infus ditangan kirinya, selang oxygen di hidungnya, yang membuat ratusan sel di hatiku rasanya tersobek-sobek menyaksikan pemandangan itu.

Pekerjaanku pun terancam karena aku harus cuti dadakan untuk pulang ke kampung sementara aku belum punya jatah cuti. Keadaan kantor yang seakan tak mau mengerti dengan keadaanku, tapi yah begitulah kantor. Kantor tetap harus berjalan, seperti waktu. Waktupun tak akan pernah memberikan kompromi, tetapi waktu memberikan pilihan kemana, dimana, dan bersama siapa kita ingin menggunakan dan menghabiskannya.

Tulisan ini kuketik dengan keadaan perut kosong, kantong yang kosong, dan hati yang hancur.
Bulan ini tak hanya mendung, ini seperti badai. Semoga saat september ini berakhir, pelangi yang aku rindukan itu segera terbit dan tak tertutupi awan yang merupakan wujud samaran dari akar pahit hatiku.

Aku pernah membaca kata-kata orang tua, katanya :
Broken Heart, empty Pocket and hungry Stomach
Will give you the best lesson in you life.

Bisa jadi itu benar, tapi ternyata benar juga kata the script dilirik lagunya yang berjudul Breakeven: "They say bad things happen for reasons. But no wise word can stop bleeding" .
Semoga hati ini pulih, agar postinganku yang setelah ini bisa kuselesaikan dengan perasaan bahagia, bukan duka seperti yang aku rasakan hari ini.