Senin, 19 Juni 2017

Pria Kopi

Jakarta, 19 Juni 2017

Malam ini langit sangat bersih dan cerah, aku baru saja selesai mandi dan membersihkan tubuhku sembari mencuci sedikit pakaian kotorku (anak kost cuy). Tulisan ini kuketik dengan sehelai handuk Pink Fanta yang masih menempel di kepalaku, rambut yang masih setengah kering dan harum aroma herbal shamponya yang membuatku rasanya ingin segera merebahkan tubuhku di kasur.

Malam ini aku merindukan dia.
Pria yang selalu menikmati hidup dalam kesendiriannya. Pria tegar, mandiri, kuat, tapi sedikit rapuh. Pria yang hatinya sudah hampir membeku karena sudah banyak merasakan kepahitan dunia sejak masa kecilnya.
Pria itu, aku tak pernah kasihan melihatnya. Aku bangga padanya, dan dia sangat menginspirasiku dengan ketegarannya.

Saat aku baru saja sampai di kota Jakarta sekitar 3 tahun yang lalu. Pertama kali aku bertemu dengan dia di sebuah coffee shop. Setiap kali aku mengingat moment itu, Aku selalu terbayang saat dia melangkahkan kaki masuk ke dalam coffee shop itu, tak kulihat wajahnya dengan jelas, aku hanya melihatnya dari samping, postur tubuhnya tinggi kurus, kulit coklat gelap manis dan tatapan matanya yang tajam, mataku tertuju padanya begitu saja. Dia berlalu, tak melirik kearahku sama sekali ~

Well berhubung kulitnya coklat seperti kopi, kusebut sajalah namanya Pria Kopi.
Aku kenal dengan sebagian dari temannya yang kebetulan saat itu akan mengadakan sebuah trip ke pulau kecil di Banten. Aku yang saat itu belum ada pekerjaan tetap, akhirnya memutuskan ikut perjalan itu karna ingin liburan sebelum bekerja di tempat yang baru. Nah, ternyata Pria Kopi itu ikut juga. Lumayan seneng sih, Tapi memang waktu itu rasaku padanya masih biasa saja. cuma ya... tetap agak kagum sedikit karna secara fisik, aku menyukainya.

Aku tak bisa menjelaskan kenapa bisa terjadi, tapi saat di pulau itu alat snorkelku tertukar dengan punya dia. Btw aku sadar kalau snorkel yang kupakai tertukar dengan dia saat sudah selesai liburan.Itupun aku melihatnya di video yang di abadikan oleh yg lain. Konyol dan tidak penting mungkin, tapi saat aku menyadari hal itu, aku sudah memiliki insting bahwa nanti akan ada yang terjadi antara aku dan Pria Kopi itu.

Waktu berlalu, bulan berotasi dan berevolusi melewati beberapa fase. hari-hari juga berlalu, aku sama sekali tak berkomunikasi dengan si Pria Kopi. Bukan karena tak ada kontaknya, hanya saja aku tahu bahwa hatinya ternyata sudah ada yang memiliki. Dan aku tak mau baperrrr. he he he



Udah ah ceritanya ngawurnya ampe sini dulu, Mau duduk di teras kosan pake kacamata item dulu biar anti mainstream. 

To Be Continued